Jumat, 30 November 2012

...::: CINTA : 3rd Chapter


                Aku dan Mas Andra menunggu di counter Dunkin’s Donut di dekat pintu kedatangan, nungguin si Arreta bawel yang katanya bentar lagi landing. Hari ini Sabtu, jadi Mas Andra lebih bebas di kantornya, bisa nemenin ke bandara jemput adiknya.

                 “Hey galak, tega bener ya kalian nongkrong disini, bantuin bawa tasku dong. Huh, malah pacaran disini,” suara bawel itu mengagetkan kami. Kenapa gak sms dulu sih, ganggu orang pacaran aja, pacarku mengomel sambil tetap jalan di belakang Arreta.

                 “Segini doang tasmu? Angkat sendiri kan bisa, ngerepotin aja.”

              Arreta pasang tampang tak berdosanya, “Ih, ngomel aja, aku kan cewek, Aa kan lebih kuat. Lagian siapa bilang segini aja? Tuh liatin,” Arreta menunjuk tumpukan tas di trolley dekat pintu, Masya Allah dia mau pindahan ya? Tasnya banyak banget.

                 “Hah? Mau pindahan kamu, Ta?” tunanganku bingung melihat adiknya dengan tas sebanyak dan seheboh itu.

                 “Iya dong, kan aku gak sendirian, tapi sama yang lain juga...”

                 “Kamu ngomel terus, tempat umum ini, Ndra. Jaga sikapmu dong, kasian adikmu baru datang sudah diomelin.” Tiba –tiba ayahnya Mas Andra, calon mertuaku muncul dari samping, keluar dari minimarket kecil, dibelakang beliau ada Ibu juga, yang tampak anggun dengan jilbab cokelat mudanya.

                 Ibu menepuk pelan bahu Ayah, “Ayah, udah deh jangan ikutan ngomel disini, masa dua tentara mau perang di bandara? Assalamualaikum, Nak, kalian udah lama nunggu ya sayang?” Beliau mencium pipiku dengan lembut, akupun mencium tangan dan memeluk Ibu cukup lama. Ayah mengusap kepalaku saat kucium punggung tangan beliau, Mas Andra juga melakukan hal yang sama pada orangtuanya.

                 “Barangnya sudah semua, Dek?” tanyaku pada Arreta, Mas Andra tampak mengobrol ringan dengan ayahnya, cukup lama mereka tidak bertemu.

                 “Dd Ia gak ikut ya, Bu? Padahal Sarah kangen loh, lama gak ketemu Dd, kalau yang satu ini mah sering banget seliweran kesini.hehe” kataku sambil bercanda dengan Arreta yang disambut senyum manyunnya. Belum sempat Ibu menjawab pertanyaanku, tiba-tiba......

                 “Bundaaaaa.......” seorang anak kecil berlari ke arahku, bersama seorang gadis yang kukenal baik, Dd Ia, adik bungsunya Mas Andra.

                 Kupeluk bocah kecil berusia 6 tahun itu sambil mencoba menggendongnya, berat.hehe. “Sayang, Bunda kangen sekali, Nak. Uuuuhhhh, Chiko berat ya sekarang, anak Bunda ini pasti maem terus ya sayang? Dikasih Tante Arreta coklat terus ya?hehe.”

                 Chiko memelukku erat sekali, bisikannya di telingaku yang membuatku sangat terharu, “Miss you so much, Bunda. Chiko mimpiin Bunda terus, kangen Ayah juga.” Kucium anak itu sepuasnya, dia semakin mengeratkan pelukannya. Rasa hangat mengalir di dadaku, naluri seorang ibu.

                 “Hey, jagoan, kok Bunda aja sih yang dipeluk? Chiko gak kangen sama Ayah?hehe”, Mas Andra langsung memeluk dan menggendong jagoan kecilnya. Dia tampak sangat senang dipelukan ayahnya, terakhir kami bertemu sekitar 2 bulan yang lalu.

            Chiko, anak Mas Andra dari pernikahannya yang terdahulu, Mbak Ninda, almarhumah istrinya meninggal saat Chiko berusia 2 tahun. Sebenarnya Mas Andra bukanlah ayah biologis dari Chiko, karena Mbak Ninda yang saat itu masih berstatus pacarnya, hamil karena pria lain. Mas Andra mengambil alih tanggung jawab itu dan menikahinya, Chiko menjadi anaknya, sah secara hukum.

           Aku menggandeng tangan Chiko, bagiku dia adalah anakku sendiri, salah satu yang menjadi kekuatanku untuk bertahan, selain Mas Andra. Chiko anak yang aktif, sangat aktif, sampai terkadang dia kelelahan karena banyaknya kegiatan sehari-hari. Chiko menyayangiku, dia suka sekali manja padaku, terutama saat di telpon atau saat aku berkunjung ke Jakarta. He’s a cute boy, really, mungkin juga karena aku pecinta anak-anak, jadi sangat senang saat Chiko ada disampingku.

                 Kami sampai Banjarmasin sekitar pukul 11, terus makan siang sebentar karena Chiko nagih jatah premannya,hehe. Padahal kata Bunda sebelum take-off juga sudah makan kentang, di pesawat juga ngemil, ah anakku itu emang doyan makan, sama seperti ayahnya.
Y
to be continued...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar