Aku dan Mas Andra menunggu di
counter Dunkin’s Donut di dekat pintu kedatangan, nungguin si Arreta bawel yang
katanya bentar lagi landing. Hari ini
Sabtu, jadi Mas Andra lebih bebas di kantornya, bisa nemenin ke bandara jemput
adiknya.
“Hey
galak, tega bener ya kalian nongkrong disini, bantuin bawa tasku dong. Huh,
malah pacaran disini,” suara bawel itu mengagetkan kami. Kenapa gak sms dulu
sih, ganggu orang pacaran aja, pacarku mengomel sambil tetap jalan di belakang Arreta.
“Segini
doang tasmu? Angkat sendiri kan bisa, ngerepotin aja.”
Arreta
pasang tampang tak berdosanya, “Ih, ngomel aja, aku kan cewek, Aa kan lebih
kuat. Lagian siapa bilang segini aja? Tuh liatin,” Arreta menunjuk tumpukan tas
di trolley dekat pintu, Masya Allah dia mau pindahan ya? Tasnya banyak banget.
“Hah?
Mau pindahan kamu, Ta?” tunanganku bingung melihat adiknya dengan tas sebanyak
dan seheboh itu.
“Iya
dong, kan aku gak sendirian, tapi sama yang lain juga...”
“Kamu
ngomel terus, tempat umum ini, Ndra. Jaga sikapmu dong, kasian adikmu baru datang
sudah diomelin.” Tiba –tiba ayahnya Mas Andra, calon mertuaku muncul dari
samping, keluar dari minimarket kecil, dibelakang beliau ada Ibu juga, yang tampak
anggun dengan jilbab cokelat mudanya.
Ibu
menepuk pelan bahu Ayah, “Ayah, udah deh jangan ikutan ngomel disini, masa dua
tentara mau perang di bandara? Assalamualaikum, Nak, kalian udah lama nunggu ya
sayang?” Beliau mencium pipiku dengan lembut, akupun mencium tangan dan memeluk
Ibu cukup lama. Ayah mengusap kepalaku saat kucium punggung tangan beliau, Mas Andra
juga melakukan hal yang sama pada orangtuanya.
“Barangnya
sudah semua, Dek?” tanyaku pada Arreta, Mas Andra tampak mengobrol ringan dengan
ayahnya, cukup lama mereka tidak bertemu.
“Dd
Ia gak ikut ya, Bu? Padahal Sarah kangen loh, lama gak ketemu Dd, kalau yang
satu ini mah sering banget seliweran kesini.hehe” kataku sambil bercanda dengan
Arreta yang disambut senyum manyunnya. Belum sempat Ibu menjawab pertanyaanku,
tiba-tiba......
“Bundaaaaa.......”
seorang anak kecil berlari ke arahku, bersama seorang gadis yang kukenal baik,
Dd Ia, adik bungsunya Mas Andra.
Kupeluk
bocah kecil berusia 6 tahun itu sambil mencoba menggendongnya, berat.hehe.
“Sayang, Bunda kangen sekali, Nak. Uuuuhhhh, Chiko berat ya sekarang, anak
Bunda ini pasti maem terus ya sayang? Dikasih Tante Arreta coklat terus
ya?hehe.”
Chiko
memelukku erat sekali, bisikannya di telingaku yang membuatku sangat terharu, “Miss you so much, Bunda. Chiko mimpiin
Bunda terus, kangen Ayah juga.” Kucium anak itu sepuasnya, dia semakin
mengeratkan pelukannya. Rasa hangat mengalir di dadaku, naluri seorang ibu.
“Hey,
jagoan, kok Bunda aja sih yang dipeluk? Chiko gak kangen sama Ayah?hehe”, Mas Andra
langsung memeluk dan menggendong jagoan kecilnya. Dia tampak sangat senang
dipelukan ayahnya, terakhir kami bertemu sekitar 2 bulan yang lalu.
Chiko,
anak Mas Andra dari pernikahannya yang terdahulu, Mbak Ninda, almarhumah
istrinya meninggal saat Chiko berusia 2 tahun. Sebenarnya Mas Andra bukanlah
ayah biologis dari Chiko, karena Mbak Ninda yang saat itu masih berstatus
pacarnya, hamil karena pria lain. Mas Andra mengambil alih tanggung jawab itu
dan menikahinya, Chiko menjadi anaknya, sah secara hukum.
Aku
menggandeng tangan Chiko, bagiku dia adalah anakku sendiri, salah satu yang
menjadi kekuatanku untuk bertahan, selain Mas Andra. Chiko anak yang aktif,
sangat aktif, sampai terkadang dia kelelahan karena banyaknya kegiatan
sehari-hari. Chiko menyayangiku, dia suka sekali manja padaku, terutama saat di
telpon atau saat aku berkunjung ke Jakarta. He’s
a cute boy, really, mungkin juga karena aku pecinta anak-anak, jadi sangat
senang saat Chiko ada disampingku.
Kami
sampai Banjarmasin sekitar pukul 11, terus makan siang sebentar karena Chiko
nagih jatah premannya,hehe. Padahal kata Bunda sebelum take-off juga sudah
makan kentang, di pesawat juga ngemil, ah anakku itu emang doyan makan, sama
seperti ayahnya.
Y
to be continued...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar