Matahari
sore menampakkan siluet seorang pria yang berlutut terdiam di depan sebuah
makam. Tubuhnya gemetar, entah karena kedinginan, atau menangis. Entahlah. Yang
pasti, sudah hampir 1 jam pria itu berlutut di depan makam. Dan aku hanya bisa
memperhatikan punggungnya yang gemetar turun-naik. Aku seakan takjub melihat
pemandangan di depanku.
Suasana
sore ini sangat sepi. Hanya kehangatan matahari yang menemani. Tak berapa lama dia
itu berdiri dan masuk ke dalam mobilnya. Mobil itu tidak langsung melaju, tapi
berhenti sejenak. Dan masih kulihat pria itu, dengan matanya yang cekung dan
sembab, dia masih memperhatikan makam yang didatanginya tadi. Aku penasaran,
makam siapa itu? Orangtua? Keluarga? Teman? Semuanya seolah berputar diotakku.
Aku memilih pulang, seperti pria itu.
Hampir setiap Minggu kulihat pria itu
datang ke pemakaman. Sama sepertiku. Aku selalu datang untuk mengunjungi makam
kakekku. Kakek yang selalu menjadi guruku. Guru yang paling hebat, menurutku.
Dia selalu mengajariku untuk bersikap dewasa dan setia terhadap apapun yang
kumiliki. Setia. Dan hal itulah yang membuatku selalu mengunjungi makamnya
selama setahun ini. Aku ingin tetap setia padanya. Walaupun ada alasan lainnya.
Pria itu. Aku ingin menyapanya, tapi tak pernah bisa. Kenapa? Karena setiap
kali dia datang, dia seolah membawa dunianya sendiri. Aku jadi takut untuk
mendekatinya, bahkan untuk sekadar menyapanya.
cd
to be continued...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar