“Sayang... Sayang...” Cup. Aku terbangun karena sebuah kecupan yang mendarat di keningku. Siapa lagi kalau bukan si bapak ganteng satu ini, a man with an uniform . Tampangku masih setengah sadar sambil melihat jam, hampir pukul 6 sore, Masya Allah, aku belum sholat ashar, ketiduran habis telponan sama Arreta tadi.
Mas Andra mengusap punggungku lembut, aku masih setengah sadar sambil mengumpulkan kesadaran. Lelakiku, masih memakai pakaian dinasnya, hijau tua, lengkap dengan atribut lambang yang menempel di lengan dan bahunya. Yup, tunanganku yang super ganteng ini memang seorang Perwira Angkatan Darat (keren gak tuh,hehe), apalagi kalau sedang berdinas, Subhanallah, gak ada yang mau palingin muka dari dia, terutama aku.hehe.
Mas Andra mengawali karir militernya sebagai penerbang AU lewat jalur Perwira Karir PSPD, dan akhirnya ditempatkan di Angkatan Darat sampai sekarang. Dari awalnya dengan pakaian dinas biru muda sampai berganti dengan hijau tua, tetap guanteng.hehe.
Hidung mancung, badan tinggi, atletis, rambut cepak, jalan tegap, lengkap daaah. Mas Andra aslinya Padang, blasteran Bali juga, kebayang gak gimana campuran eksotismenya dua daerah itu? Aku aja gak pernah bosan memandanginya.
“Mas, udah pulang ya? Adek ketiduran sayang, belum sholat ashar.” Cup, aku balas berikan kecupan ringan di pipinya, setelah mencium punggung tangannya. Bergegas berdiri menuju ruangan kecil yang kusulap jadi mushola disebelah ruanganku, tangannya menahan langkahku.
Mas Andra memelukku sejenak, bisa kurasakan aroma tubuhnya, sangat maskulin. Jangan-jangan si abang pakai parfum dulu di mobil tadi,hehe.
“Mas kangen adek seharian ini sayang, ndak fokus kerjanya.hehe.” “Kita jamaah yuk sayang, Mas belum sholat juga, tadi kejebak macet di Pasar Lama, salah jalan,” sambungnya sambil menggandeng tanganku keluar dari ruangan. Akhirnya, sore itu kami tutup dengan sholat Ashar berjamaah walau hampir telat, disambung dengan sholat Maghrib, hanya berdua.
Mushola sepi sore itu, bukan karena gak ada yang sholat, tapi mana ada yang tahan gangguin momen so sweet begitu, dua insan lagi sholat berjamaah, udah kayak sepasang suami istri lagi ibadah bareng, khusyuk banget. Jadi karyawan Calista’s Cafe and Resto milih sholat di mesjid seberang, daripada ganggu kekhusyukkan dua insan ini.
Hhhhmmmph, capeknya hari ini. Kayaknya enak banget kemulan di tempat tidur sampai subuh. Barusan Mas Andra pulang, hampir setengah jam ngobrol ngalor-ngidul sama ayahku, kebiasaan mereka tuh, bahas macam-macam. Kalau aja gak hampir jam 11 malam, gak bakal tuh mereka berhenti nge-‘gosip’.hehe.
“Mas kangen adek seharian ini sayang, ndak fokus kerjanya.hehe.” “Kita jamaah yuk sayang, Mas belum sholat juga, tadi kejebak macet di Pasar Lama, salah jalan,” sambungnya sambil menggandeng tanganku keluar dari ruangan. Akhirnya, sore itu kami tutup dengan sholat Ashar berjamaah walau hampir telat, disambung dengan sholat Maghrib, hanya berdua.
Mushola sepi sore itu, bukan karena gak ada yang sholat, tapi mana ada yang tahan gangguin momen so sweet begitu, dua insan lagi sholat berjamaah, udah kayak sepasang suami istri lagi ibadah bareng, khusyuk banget. Jadi karyawan Calista’s Cafe and Resto milih sholat di mesjid seberang, daripada ganggu kekhusyukkan dua insan ini.
Hhhhmmmph, capeknya hari ini. Kayaknya enak banget kemulan di tempat tidur sampai subuh. Barusan Mas Andra pulang, hampir setengah jam ngobrol ngalor-ngidul sama ayahku, kebiasaan mereka tuh, bahas macam-macam. Kalau aja gak hampir jam 11 malam, gak bakal tuh mereka berhenti nge-‘gosip’.hehe.
Mas Andra, tunanganku, my man with his uniform, tentara yang gak seperti tentara lainnya.hehe. Dia suka tertawa, yah walaupun kadang kaku dalam beberapa kesempatan, misalnya suasana yang dia gak suka atau bikin bete. But, he’s sooooo romantic, dalam sikap dan perbuatannya. Pokoknya dibalik kekurangannya yang kadang gampang badmood, keras, dan kadang terlalu tegas, dia punya kelebihan yang membuatku semakin mencintainya. Yang pasti, aku menerimanya dengan semua hal yang dia punya, terutama kekurangannya.
Ponselku bernyanyi-nyanyi sendiri, siapa lagi kalau bukan dia.hehe.
“Assalamualaikum sayang, udah sampai ya? Ganti baju dulu sana, udah bau seharian, acem.hehe.”
“Hehe, kamu cerewet ah, calon suamimu sudah wangi sayangku, kamunya aja yang belum mandi kan?” tawanya berderai di ujung sana, ketahuan deh aku belum mandi.hehe
“Masa? Kok cepet banget yang? Mandi apaan tuh? Adek mah gak perlu mandi udah wangi sayang, wong Mas aja jatuh cinta kan sama adek?hehe”
“Dasar, kamu tuh, Yang, lha gimana tar kalo udah nikah moso tetep males?”
“Beda sayangku, malam ini capek banget badan adek, mau tiduran sambil ditemenin sama Mas aja, kangen tau.”
“Iya sayang, lha iki lagi tak temenin kan?hehe. Miss you, too, sayangku.”
Sampai jam 1 pagi kami telponan, gak pernah bosan aku dengar suaranya, suara berat dengan tawa yang khas, ah lelaki-ku tersayang.
Y
to be continued...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar